Thursday, 9 October 2014

Boleh Berhutang Untuk Kurban Asal mampu melunasi

Alhamdulillah
Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya pada jawaban soal nomor: 36432, tentang perbedaan para ulama tentang hukum berkurban, apakah hukumnya wajib atau sunnah ?
Syeikh Ibnu Baaz –rahimahullah- berkata:
“Tidak ada satupun dalil syar’i yang menunjukkan bahwa berkurban adalah wajib, dan yang mengatakan bahwa berkurban adalah wajib, maka it adalah pendapat yang lemah”. (Majmu’ Fatawa Ibnu Baaz: 18/36)
“Mereka yang mengatakan hukum berkurban adalah wajib, mereka pun memberi syarat, yaitu; yang berkurban harus kaya”. (Hasiat Ibni ‘Abidin: 9/452)
Menurut kedua pendapat di atas –yang wajib maupun yang sunnah-, tidak wajib untuk berhutang untuk membeli hewan kurban; karena kurban tidak wajib kecuali bagi mereka yang kaya, ini merupakan kesepakatan para ulama.
Lalu yang menjadi pertanyaan adalah:
Apakah disunnahkan untuk berhutang atau tidak ?
Jawabannya adalah: Disunnahkan berhutang jika ada kemungkinan mampu untuk membayarnya. Seperti halnya seorang pegawai yang berhutang, dan menunggu akhir bulan untuk membayarnya dengan gaji yang ia terima. Namun jika kemungkinannya tidak mampu membayarnya, maka lebih baik tidak berhutang; karena hutang akan menyita perhatiannya untuk membayarnya karena sesuatu yang hukumnya tidak wajib.
Syeikh Islam Ibnu Taimiyah –rahimahullah- pernah ditanya tentang seseorang yang tidak mampu berkurban, apakah perlu berhutang ?
Beliau menjawab:
“Kalau ia berhutang dan merasa mampu untuk melunasinya, maka hal itu adalah baik, namun ia sebenarnya tidak wajib melakukannya”. (Majmu’ Fatawa: 26/305)
Demikian pernyataan beliau, padahal beliau –rahimahullah- termasuk yang mewajibkan berkurban.
Syeik Ibnu Baaz –rahimahullah- pernah ditanya: Apakah berkurban wajib bagi mereka yang tidak mampu ?. Apakah boleh berkurban dengan hutang yang ambilkan dari gaji tiap bulannya ?
 Beliau menjawab:
“Berkurban itu hukumnya sunnah bukan wajib, tidak masalah jika seorang muslim berhutang untuk berkurban jika ia memiliki kemampuan untuk membayarnya”. (Fatawa Ibnu Baaz: 1/37).

Kurban Satu Ekor Kambing Untuk Satu Keluarga

Apakah dibolehkan bagi kami berkurban dengan satu hewan kurban, sedangkan saya dan saudara saya memiliki rumah sendiri-sendiri dan berada pada kota berjauhan. Kami berkumpul pada saat hari raya, sedangkan ibu kami kadang kala ia tinggal bersama saya, kadang kala ia tinggal bersama saudara saya, sedangkan bapak kami sudah meninggal dunia. Jika ibu kami membeli hewan kurban dari harta beliau sendiri, apakah juga termasuk di dalamnya saya dan saudara saya ?


Alhamdulillah
Pertama:
Berkurban adalah sunnah mu’akkadah (yang dikuatkan), bukan wajib, menurut jumhur ulama fikih. Namun sebagian ulama mewajibkannya bagi mereka yang mampu, ini adalah pendapat Abu Hanifah, dan Ahmad pada satu riwayat. Pendapat inilah yang dipilih oleh Syeikh Islam Ibnu Taimiyah.
Syeikh Ibnu Utsaimin –rahimahullah- berkata: “Pendapat yang mewajibkan berkurban lebih pas dari pada yang tidak mewajibkannya, namun dengan syarat mampu melaksanakannya”. (Syarhul Mumti’: 7/ 422)
Kedua:
Satu hewan kurban boleh bagi satu orang dan keluarganya, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi (1505) dan Ibnu Majah (3147) dari ‘Atha’ bin Yasar berkata: “Saya sudah bertanya kepada Abu Ayyub al Anshari, bagaimana kurban pada masa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- ?, beliau menjawab: “Ada seorang laki-laki berkurban dengan satu kambing untuk dirinya dan keluarganya, dan mereka mengkonsumsinya dan mensedekahkannya”. (Dishahihkan oleh al Baani dalam “Shahih Tirmidzi”)
Disebutkan dalam “Tuhfatu Ahwadzi”: “Hadits ini merupakan nash yang jelas bahwa satu kambing dibolehkan untuk satu orang dan keluarganya, meskipun keluarganya jumahnya banyak, dan inilah yang benar”.
Al Hafidz Ibnul Qayyim berkata dalam “Zaadul Ma’aad”: “Dan termasuk dari petunjuk Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bahwa satu kambing dibolehkan bagi seseorang dan keluarganya, meskipun jumlah mereka banyak”.
Asy Syaukani dalam “Nail Authar” berkata: “Pendapat yang benar adalah bahwa satu kambing boleh untuk sekeluarga, meskipun mereka terdiri dari 100 jiwa atau lebih, sebagaimana petunjuk sunnah”.
Ketiga:
Yang termasuk “Ahlul Bait” adalah istri dan anak-anak, demikian juga kerabat yang tinggal serumah dan termasuk di bawah tanggungan kepala rumah tangga (suami), atau kerabat tersebut sama-sama bekerja dan mereka masih makan dan minum bersama dalam satu rumah.
Sedangkan bagi seseorang yang bertempat tinggal terpisah, atau dengan nafkah terpisah, maka tidak boleh menjadi bagian dari satu hewan kurban, dan disunnahkan untuk berkurban sendiri.
Imam Malik –rahimahullah- berkata kepada anggota keluarganya yang masuk dalam bagian hewan kurbannya: “Mereka adalah yang berada dibawah tanggungan nafkahnya, baik dengan jumlah sedikit maupun banyak”. Muhammad menambahkan dari Malik: “…dan anaknya dan kedua orang tuanya yang fakir”. Ibnu Hubaib berkata: “Dan termasuk dalam hewan kurbannya adalah seorang anak yang sudah baligh meskipun ia seorang yang kaya, dan saudara laki-lakinya, dan keponakan laki-lakinya, dan kerabatnya yang berada dalam tanggungannya dan keluarganya. Beliau membolehkan itu semua dengan tiga sebab: kekerabatan, satu atap rumah, dan dibawah tanggungannya”. Muhammad berkata: “Istrinya juga termasuk dalam hewan kurbannya; karena jalur pernikahan lebih kuat dari pada jalur kerabat”. (at Taaju wal Ikliil Syarh Mukhtashar Kholil: 4/364)
Syeikh Ibnu Utsaimin –rahimahullah- pernah ditanya: “Apakah boleh satu hewan kurban untuk dua saudara kandung yang bertempat tinggal dalam satu rumah berserta anak-anak mereka, makan dan minum pada satu tempat yang sama?
Beliau menjawab:
“Ya, boleh. Satu keluarga dalam satu rumah meskipun terdiri dari dua kepala rumah tangga boleh menyembelih satu hewan kurban, dan akan mendapatkan keutamaan berkurban”. (Fatawa Nuur ‘alad Darbi).
Syeikh Ibnu Baaz –rahimahullah- pernah ditanya: “Saya seorang yang sudah menikah dan alhamdulillah saya dikaruniai beberapa anak, saya tinggal di sebuah kota yang berjauhan dari tempat tinggal keluarga saya. Dan pada musim liburan saya pulang ke kota tempat tinggal keluarga saya tersebut. Dan pada hari raya idul adha kali ini, saya dan anak-anak pulang kampung lima hari sebelum hari raya, dan kami belum berkurban padahal kami –alhamdulillah- mampu melaksanakannya.
Apakah boleh bagi saya untuk berkurban ?, apakah hewan kurban orang tua juga termasuk bagi saya, istri dan anak-anak saya ?, apakah hukum berkurban bagi seseorang yang mampu melaksanakannya ?, apakah juga diwajibkan bagi mereka yang belum mampu ?, apakah boleh berkurban dengan hutang potong gaji ?
Beliau menjawab:
“Hukum berkurban adalah sunnah bukan wajib, satu kambing boleh untuk satu orang dan anggota keluarganya; karena Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- berkurban setiap tahun dengan dua kambing yang gemuk, dan bertanduk, yang satu atas nama beliau dan keluarganya, dan yang satu lagi atas nama umatnya yang bertauhid.
Dan jika anda tinggal di rumah terpisah –wahai penanya-, maka disunnahkan anda berkurban sendiri dengan anggota keluarga anda, dan tidak cukup dengan kurban orang tua anda dan anggota keluarganya; karena anda tidak tinggal bersama mereka, bahkan anda tinggal di rumah terpisah. Tidak masalah jika seorang muslim berkurban dengan berhutang, jika ia memiliki kemampuan untuk membayarnya. Semoga Allah –Ta’ala- memberikan petunjuk-Nya kepada semua”.
(Majmu’ Fatawa Syeikh Ibnu Baaz: 18/37)
Keempat:
Sesuai dengan penjelasan di atas, maka hewan kurban anda tidak termasuk di dalamnya saudara anda, meskipun anda berdua berkumpul pada waktu hari raya, demikian juga sebaliknya.
Adapun Ibu anda, maka hewan kurbannya hanya untuknya dan anggota keluarga di mana ia tinggal bersama mereka.
Lihat juga jawaban soal nomor: 41766 dan 45768.
Wallahu a’lam.

Apa Hukum Memanjangkan Kuku bagi Pria


Apa hukumnya memelihara (memanjangkan) kuku bagi kaum pria dan wanita? Jika memang diharamkan, apa hikmah dibalik pelarangan itu?


Alhamdulillah, memotong kuku termasuk salah satu perkara fitrah, berdasarkan sabda nabi Shallallaahu 'Alaihi wa Sallam: "Perkara fitrah ada lima: Berkhitan, mencukur bulu kemaluan, menggunting kumis, menggunting kuku dan mencabut bulu ketiak."
(H.R Al-Bukhari dan Muslim)
Dalam hadits shahih lainnya disebutkan bahwa perkara fitrah ada sepuluh, salah satunya adalah menggunting kuku.
Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallaahu 'Anhu ia berkata:
"Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi wa Sallam memberi kami batas waktu untuk menggunting kumis, menggunting kuku, mencabut bulu ketiak dan mencukur bulu kemaluan, yaitu tidak membiarkannya lebih dari empat puluh hari."
(H.R Ahmad, Muslim dan Nasa'i, lafal hadits di atas adalah lafal hadits riwayat Ahmad)
Barangsiapa tidak menggunting kukunya berarti ia telah menyalahi perkara fitrah.
Hikmah pelarangannya ialah untuk menjaga kesucian dan kebersihan, karena kadangkala dalam kuku tersebut tersimpan kotoran, dan juga untuk menghindari bentuk penyerupaan diri dengan orang-orang kafir dan hewan-hewan bercakar dan berkuku panjang.
Fatawa Lajnah Daimah V/173.
Pada hari ini banyak kita jumpai kaum wanita yang menyerupakan dirinya dengan binatang-binatang buas, dengan memanjangkan kuku-kuku mereka kemudian mengecatnya dengan cat-cat kuku berwarna norak. Pemandangan seperti ini sangat buruk dan membuat jengkel hati orang-orang berpikiran sehat dan lurus fitrahnya. Termasuk kebiasaan jelek yang dilakukan sebagian orang pada hari ini adalah membiarkan panjang salah satu kukunya, sudah barang tentu perbuatan semacam itu menyalahi perkara fitrah. Hanya kepada Allah sematalah kita memohon keselamatan dan afiat dan Dia-lah yang menunjuki kepada jalan yang lurus.

 http://islamqa.info/id/1195

Saturday, 8 June 2013

Sukses Bukan Sesuatu Kebetulan Tapi Tindakan

Sukses Bukan Keajaiban

Oleh : FreeHant
Semua orang pastilah menginginkan sebuah kesuksesan, walau sebuah kesuksesan mempunyai arti yang beraneka ragam, tergantung  dari setiap pribadi untuk mengartikannya. Akan tetapi pada kenyataanya, banyak orang yang enggan meraih kesuksesan tersebut. Banyak orang di luar sana yang menganggap kesuksesan dapat tercapai karena ada sebuah keajaiban. Sungguh ironi memang, tapi begitulah yang terjadi di luar sana.
Saya sudahlah sering meraih kesuksesan yang sesuai dengan standart saya sendiri, saya sudah sukses lulus sekolah, saya sudah sukses mendapakan pekerjaan, saya sudah sukses membeli barang-barang yang saya inginkan. Dan dari semua kesuksesan yang telah saya dapatkan tersebut, tidak satupun yang saya dapatkan karena adanya sebuah keajaiban. Semuanya saya raih dengan sebuah usaha, dengan penuh keyakinan dan pengorbanan.
Semua orang yang berhasil meraih sebuah kesuksesan dikarenakan mereka mulai melakukan sesuatu untuk meraihnya. Tak satupun dari daftar orang-orang sukses yang mendapatkan kesuksesannya hanya dengan berpangku tangan saja. Banyak yang mereka korbankan, waktu mereka, tenaga mereka, uang mereka, gengsi mereka, dan masih banyak lagi.
Yang pasti, untuk dapat meraih kesuksesan, kita harus berani memutuskan untuk mulai melakukan sesuatu, kemudian mulailah susun strategi, berani menghadapi segala rintangan, halangan atau bahkan kegagalan. Modal yang paling utama adalah keyakinan yang kuat, ketabahan hati, kekuatan pikiran dan kemauan yang menggebu.
Oleh karena itu, camkanlah dalam pikiran Anda bahwa kesuksesan bukanlah sebuah keajaiban. Jangan pernah takut menghapi proses menuju kesuksesan, jangan pernah menyerah menuju kesuksesan, jangan pernah berhenti sebelum kesuksesan sudah ada di genggaman Anda,
“Saya ingin sukses, oleh karena itu saya tidak mau hanya berdiam diri berpangku tangan menunggu kesuksesan datang, saya akan melakukan sebuah lompatan untuk meraih kesuksesan yang saya inginkan.”        
“Segala sesuatu pasti ada proses, maka mulai saat ini saya memutuskan akan menghadapi proses menuju kesuksesan dengan keyakinan, kemauan dan usaha yang tiada henti. Kesuksesan sudah ada di depan mata saya, dan saya tidak mau menyia-nyiakan waktu saya untuk membiarkan kesuksesan itu lewat begitu saja dari genggaman tangan saya.”        
“Kesuksesan dapat terjadi karena ada niat dari pelakunya, dan juga karena ada kesempatan, maka raihlah dan mulailah melakukan tindakan.”   

sumber:  http://addianta.wordpress.com/2011/03/23/sukses-bukan-keajaiban/

Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah

Kemuliaan di Bulan Ramadhan

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183)
Asalammualaikum….
Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah, sehingga di dalam Al-Quran pun di perintahkan untuk seluruh umat beriman untuk berpuasa di bulan ini agar mendapatkan syafaat dari bulan ini, bukan cuma sekedar mendapatkan lapar dan haus, karena di bulan Ramadhan adalah bulan yang mana semua doa kita di terima oleh Allah SWT dan amal ibadah kita di lipat gandakan pahalanya, sungguh sebuah kesia-siaan jika kita melewati bulan ini dengan biasa saja, tanpa memperbaiki pola beribadah kita, seperti yang di lakukan Rasulullah SAW dimana saat datangnya bulan Ramadhan Rasulullah SAW mengencangkan ikat pinggang, menghidupkan malamnya dengan beribadah dan membangunkan keluarganya, seperti yang diutarakan Aisyah RA.
Apa yang membuat Rasulullah beribadah dengan begitu spesial di bulan ramadhan, mari kita kaji apa saja keistimewaan bulan Ramadhan?, mari kita lihat dibawah ini:
1.      Puasa merupakan salah satu rukun Islam yang ke 4
Inilah rukun Islam keempat yang wajib dilakukan oleh seorang muslim yaitu berpuasa selama satu bulan penuh pada bulan Ramadhan dengan menahan makan, minum dan berhubungan suami istri serta pembatal lain dari mulai terbit fajar sampai tenggelamnya matahari.
2.      Bulan diturunkannya Al Qur’an.
Sebagai salah satu peringatan bulan turunnya Al Qur’an ke dunia sesuai dengan isi Al Quran surat Al Baqarah ayat 185.
3.      Bulan Penghapusan Dosa
Rasulullah Muhammad  SAW bersabda: “Barang siapa yang berpuasa dibulan ramadhan dengan penuh iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (HR. Bukhari dan Muslim).
4.      Perisai Dari Api Neraka
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. : Rasulullah SAW pernah bersabda,” Puasa adalah perisai (dari api neraka). Maka orang yang berpuasa janganlah berhubungan badan dengan istrinya atau berbuat jahil, dan apabila seseorang memaki atau mengajak berkelahi, katakan kepadanya,’aku sedang berpuasa’. Nabi Muhammad Saw. menambahkan,”demi Dia yang menggenggam jiwaku, bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada wangi misk. (dan inilah perkataan Allah terhadap orang yang sedang berpuasa), ‘ia tidak makan dan minum dan meninggalkan nafsunya karena Aku. Puasa adalah untuk-Ku dan Aku lah yang akan membalasnya, dan setiap kebaikan akan dibalas sepuluh kali lipatnya’.”
5.      Bulan Penuh Berkah dan DiterimaNya Semua Doa
Dari Ubadah bin Ash-Shamit, bahwa Rasulullah saw -pada suatu hari, ketika Ramadhan telah tiba- bersabda: Ramadhan telah datang kepada kalian, bulan yang penuh berkah, pada bulan itu Allah swt memberikan naungan-Nya kepada kalian. Dia turunkan Rahmat-Nya, Dia hapuskan kesalahan-kesalahan, dan Dia kabulkan do’a. pada bulan itu Allah swt akan melihat kalian berpacu melakukan kebaikan. Para malaikat berbangga dengan kalian, dan perlihatkanlah kebaikan diri kalian kepada Allah. Sesungguhnya orang yang celaka adalah orang yang pada bulan itu tidak mendapat Rahmat Allah swt”. (HR Ath-Thabarani).
6.      Di Buka Seluruh Pintu Langit dan Di tutup Semua Pintu Neraka
Rasulullah Muhammad  SAW bersabda: “Apabila telah datang bulan Ramadhan, pintu – pintu langit dibuka, sedangkan pintu – pintu neraka akan ditutup, dan setan dibelenggu“ ( HR Bukhari dan Muslim ).
7.      Terdapatnya Malam Lailatul Qadar yang Lebih Baik dari 1000 Bulan
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (AlQuran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaa itu?Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai fajar.” (Al Qadr 97:1-5).
8.      Pahala yang Berlipat Ganda
“Barangsiapa yang mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu pekerjaan kebajikan didalamnya, samalah dia dengan orang yang menunaikan shalat fardhu dibulan yang lain. Dan barangsiapa yang menunaikan suatu fardhu didalamnya, samalah dia dengan orang yang mengerjakan tujuh puluh fardhu di bulan yang lain. Ramadhan itu adalah bulan sabar, sedangkan sabar itu pahalanya adalah surga” (HR.Ibnu Khumairah).
9.      Pintu Surga Arrayan Bagi Orang yang Berpuasa
Dari Sahl bin Sa’ad –radhiallahu’anhu- ia berkata : Rasulullah shallallahu’alaihi Wa sallam bersabda : “Sesungguhnya di jannah ada satu pintu yang dinamakan Ar-Rayyan, akan masuk dari pintu tersebut nanti pada hari kiamat orang-orang yang dulunya berpuasa,dan tidaklah masuk dari pintu tersebut selain mereka. Dikatakan :
“Mana orang-orang yang dulunya berpuasa? Sehingga mereka masuk dari pintu tersebut, dan jika mereka telah masuk semua, maka ditutuplah pintu tersebut dan tidak ada seorangpun yang masuk selain mereka”.
Itulah sebagian dari pada keistimewaan bulan Ramadhan, yang tentunya masih banyak lagi, jadi begitu mulia dan istimewanya bulan ini, jangan sampai kita sia-siakan kesempatan emas ini.
Lipatgandakanlah kerajinan kita dalam beribadah di bulan Ramadhan kali ini, karena kita tidak bisa jamin apakah kita akan ketemu bulan ini kembali di tahun mendatang.
Wassalam…
sumber: http://news.palcomtech.com/2012/08/kemuliaan-di-bulan-ramadhan/

Tuesday, 18 December 2012

AYO BERWUDLU SESUAI DENGAN CONTOH NABI Shallallahu alaihi wa sallam (2) !!!

بسم الله الرحمن الرحيم

SIFAT WUDLU NABI Shallallahu alaihi wa sallam (2)

11). Niat.

Dalil tentang niat di bawah ini menerangkan tentang disyariatkannya niat ketika hendak mengerjakan suatu amalan dari beberapa amalan yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Karena tanpa niat, amalan yang dikerjakan oleh seseorang dari kaum muslimin itu akan sia-sia dan tidak akan mendapatkan balasan kebaikan sedikitpun untuknya di akhirat kelak. Niat itu berupa tujuan atau maksud hati dari mengerjakan amal tersebut yaitu mengharapkan dan mendambakan keridloan Allah Subhanahu wa ta’ala dan balasan kebaikan semata-mata dari-Nya.

Pun demikian di dalam wudlu, setiap muslim wajib menghadirkan niat di dalam hatinya tanpa melafazhkannya dengan lisannya. Tanpa menghadirkan niat di dalam hatinya maka wudlu yang dikerjakannya tersebut tidak ada nilainya di sisi Allah Azza wa Jalla.

عن علقمة  بن  وقاص الليثي يَقُوْلُ: سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ اْلخَطَّابِ رضي الله عنه (يَخْطُبُ ) عَلَى اْلمـِنْبَرِ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ : (يَا أَيُّهَا النَّاسُ) إِنمَّاَ اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَاتِ (و فى رواية: اْلعَمَلُ بِالنِّيَةِ) وَ إِنمَّاَ لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلىَ اللهِ وَ رَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلىَ اللهِ وَ رَسُوْلِهِ وَ مَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلىَ دُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ إِلىَ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا (و فى رواية: يَتَزَوَّجُهَا) فَهِجْرَتُهُ إِلىَ مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

 Dari Alqomah bin Waqqash al-Laitsiy berkata, aku pernah mendengar Umar bin al-Khaththab radliyallahu anhu berkhutbah di atas mimbar seraya berkata, “Aku pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Wahai manusia, sesungguhnya amal-amal itu tergantung dengan niatnya (di dalam satu riwayat, “Amal itu tergantung dengan niat”). Dan tiap-tiap orang hanyalah mendapatkan apa yang ia niatkan. Barangsiapa yang (niat) hijrahnya kepada Allah dan Rosul-Nya maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rosul-Nya, tetapi barangsiapa yang (niat) hijrahnya kepada dunia yang ia peroleh atau seorang wanita yang ia nikahi maka hijrahnya itu kepada apa yang ia hijrahkan”. [HR al-Bukhoriy: 1, 54, 2529, 3898, 5070, 6689, 6953, Muslim: 1907, Abu Dawud: 2201. at-Turmudziy: 1647, an-Nasa’iy: I/ 58-60, Ibnu Majah: 4227, Ahmad: I/ 25, Ibnu Khuzaimah: 142, al-Humaidiy: 28 dan ad-Daruquthniy: 128. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [1]

Berkata asy-Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Ikhlas karena Allah merupakan syarat diterimanya amal. Karena Allah tidak akan menerima suatu amal kecuali yang paling ikhlas dan yang paling benar. Adapun yang paling ikhlas adalah selama karena Allah dan yang paling benar adalah selama menyepakati alqur’an dan sunnah”. [2]

Berkata al-Fudloil bin ‘Iyadl rahimahullah mengenai firman Allah ta’ala ((Dialah yang telah menciptakan mati dan hidup, agar menguji kalian siapakah diantara kalian yang paling baik amalnya. QS. al-Mulk/67: 2)), dia berkata, “Yang paling ikhlash (murni) dan yang paling benar (tepat)”. Mereka bertanya, “Wahai Abu ‘Ali ! (maksudnya al-Fudloil) apakah yang paling benar dan yang paling ikhlash itu?. Dia menjawab, “Sesungguhnya amal itu apabila ikhlash tetapi tidak benar, amal tersebut niscaya tidak akan diterima. Dan apabila amal tersebut benar tetapi tidak ikhlash juga tidak akan diterima, sehingga amal tersebut ikhlash dan benar. Ikhlash itu adalah karena Allah, dan benar itu adalah di atas sunnah”. [3]

Jumhur ulama beristidlal atas disyaratkan niat di dalam wudlu dengan dalil-dalil shahih lagi jelas dengan bentuk dijanjikan balasan. Maka sudah semestinya berkehendak membedakannya dengan selainnya agar mendapatkan pahala yang dijanjikan. [4]

Berkata Ibnu Ajalan, “Tidak shalih amal itu kecuali dengan tiga hal, yaitu takwa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, niat yang baik dan (amal yang) benar”. [5]

Berkata al-Hafizh Abu al-Hasan Thahir bin Mufawwiz al-Mu’arifiy, [6]

عمدة الدين عندنا كلمات            أربع من كلام خير البرية
اتق الشبهات و ازهد و دع ما       ليس يعنيكـ و اعملن بنية

Tiangnya agama di sisi kami ada empat
kalimat, dari ucapan sebaik-baiknya makhluk
Jagalah dirimu dari syubhat, zuhudlah, tinggalkan apa
yang tidak berguna bagimu dan beramallah dengan niat.

Namun perlu diperhatikan bahwasanya niat itu tempatnya di hati bukan dilafazhkan oleh lisan, karena ketiadaan dalil dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, perbuatan para shahabat radliyallahu anhum ataupun dari para imam kaum muslimin.

Berkata Ibnu Rajab rahimahullah, “Niat adalah merupakan kehendak hati dan tidak wajib melafazhkan apa yang ada di hati dan tidak pula di dalam sesuatupun dari ibadah”. [7]

Berkata asy-Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Alu Bassam rahimahullah, “Bahwasanya niat itu tempatnya adalah hati. Maka melafazhkannya adalah perbuatan bid’ah”. [8]

Dan telah shahih dari Ibnu Umar radliyallahu anhuma bahwasanya ia pernah mendengar seorang lelaki pada waktu ihramnya mengucapkan, “Ya Allah, aku menghendaki haji dan umrah”. Lalu ia berkata kepada lelaki itu, “Apakah kamu hendak memberitahu kepada manusia (akan perbuatanmu)?. Bukankah Allah mengetahui apa yang ada pada hatimu?”. [9]

Berkata al-Allamah Ibnu Qoyyim al-Jauziyah rahimahullah, “Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah mengucapkan di awalnya; nawaytu raf’al hadatsi (artinya, “Aku berniat menghilangkan hadats”) dan tidak pula memperbolehkan sholat (dengannya) dan tidak seorangpun para shahabat radliyallahu anhum (yang mengucapkannya pula). Tidak diriwayatkan satupun huruf tentang hal itu darinya, tidak dengan sanad yang shahih dan tidak pula yang dla’if”. [10]

Maksud dari beberapa penjelasan di atas, bahwa amal agar diterima oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dan mendapatkan balasan kebaikan dari-Nya kelak pada hari kiamat itu, mesti berdasarkan atas dua perkara yaitu; ikhlas dan ittiba’.

Ikhlas adalah mengerjakan sesuatu amalan yang diperintahkan semata-mata dengan niat mengharapkan keridloan Allah Subhanahu wa ta’ala dari dalam hatinya. Jadi niat adalah amalan hati bukan lisan.

Adapun ittiba’ adalah mengerjakan satu dari berbagai amal shalih yang telah diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala di dalam alqur’an dan juga Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam hadits-hadits yang telah tsabit darinya.

12. Mengucapkan tasmiyyah ketika wudlu.

Setelah menghadirkan niat di dalam hati, maka seorang muslim yang hendak berwudlu mengawalinya dengan mengucapkan tasmiyyah yaitu ucapan  بسم الله dan ucapan itu tidak boleh ditambah misalnya menjadi بسم الله الرحمن الرحيم . Kendatipun ucapan tasmiyyah yang ada tambahannya itu tampaknya lebih baik atau sempurna, namun lantaran tidak pernah dicontohkan oleh pembawa syariat yaitu Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam maka penambahan itu tetap tidak boleh dan tidak diperkenankan.

عن أبي هريرة قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ  صلى الله عليه و سلم : لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لاَ وُضُوْءَ لَهُ وَ لاَ وُضُوْءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرِ اسْمَ اللهِ تَعَالىَ عَلَيْهِ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Tiada sholat bagi orang yang tiada wudlu baginya dan tiada wudlu bagi orang yang tidak menyebut nama Allah ta’ala atasnya”. [HR Abu Dawud: 101, Ibnu Majah: 399 dan Ahmad: II/ 418 darinya, Ibnu Majah: 398, al-Hakim: 533 dan ad-Daruquthniy: 226 dari Sa’id bin Zaid. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [11]

عن أنس قَالَ: طَلَبَ بَعْضُ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم وَضُوْءًا فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ  صلى الله عليه و سلم: هَلْ مَعَ أَحَدٍ مِنْكُمْ مَاءٌ؟ فَوَضَعَ يَدَهُ فىِ اْلمـَاءِ وَ يَقُوْلُ: تَوَضَّؤُوْا بِاسْمِ اللهِ فَرَأَيْتُ اْلمـَاءَ يَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ أَصَابِعِهِ حَتىَّ تَوَضَّؤُوْا مِنْ عِنْدِ آخِرِهِمْ قَالَ أَبُوْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ: قَالَ ثَابِتٌ: قُلْتُ لِأَنَسٍ: كَمْ تَرَاهُمْ؟ قَالَ: نَحْوًا مِنْ سَبْعِيْنَ

Dari Anas radliyallahu anhu berkata, sebahagian para shahabat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam pernah mencari air wudlu. Lalu Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ”Apakah pada seseorang di antara kalian ada air?”. Lalu Beliau meletakkan tangannya pada air dan bersabda, ”Berwudlulah kalian dengan menyebut nama Allah!”. Aku melihat air keluar memancar dari sela-sela jari jemarinya sehingga mereka berwudlu sampai orang terakhir. Abu Abdurrahman berkata, berkata Tsabit, Aku bertanya kepada Anas, ”Berapakah jumlah mereka yang engkau lihat?”. Ia menjawab, ”Sekitar tujuh puluh orang”. [HR an-Nasa’iy: I/ 61-62 dan Ibnu Khuzaimah: 144. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih isnadnya ]. [12]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, (PERHATIAN),

“Sebahagian kaum muslimin secara sengaja membuat doa khusus untuk (pembasuhan) tiap anggota dari anggota wudlu. Ini adalah suatu bid’ah yang (wajib) diingkari. Sebab tidak ada satupun hadits yang shahih padanya. Jika al-Imam Nawawiy rahimahullah di dalam kitab ”al-Adzkarnya” telah menisbahkannya kepada sebahagian ahli ilmu, maka sungguh-sungguh al-Imam Nawawiy berkata di dalam kitabnya tersebut (dengan tahqiqku), ”Adapun doa bagi tiap-tiap anggota-anggota wudlu maka hal tersebut tidak pernah datang sedikitpun dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam”.

Lalu al-Allamah Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata di dalam kitabnya ”Zad al-Ma’ad”, [13] ”Tidak terjaga dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bahwasanya Beliau berdoa dengan sesuatupun atas wudlunya selain tasmiyah. Semua hadits tentang dzikir wudlu yang diucapkan (oleh kaum muslimin) adalah dusta yang dibuat-buat, yang tidak pernah diucapkan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam sedikitpun darinya dan tidak pula diajarkan kepada umatnya”.  [14]

Jadi mengucapkan bacaan doa atau dzikir di awal wudlu sebagai syarat sahnya wudlu dan sebagaimana diperintahkan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam adalah hanya mengucapkan tasmiyah yakni membaca  بسم الله  tidak ada penambahan dan juga bacaan lainnya.

13. Membasuh kedua telapak tangan.

Setelah mengucapkan tasmiyah, dilanjutkan dengan membasuh kedua telapak tangan sebelum memasukkan keduanya ke dalam bejana. Yaitu menuangkan air ke atas kedua telapak tangannya lalu mencucinya sebanyak dua atau tiga kali. Terlebih jika bangun tidur, dikarenakan orang yang baru bangun tersebut tidak mengetahui dimanakah kedua tangannya bermalam, boleh jadi tangan tersebut bermalam pada farji atau duburnya.

عن أبي هريرة عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنَ اللَّيْلِ فَلاَ يُدْخِلْ يَدَهُ فىِ اْلإِنَاءِ حَتىَّ يُفْرِغَ عَلَيْهَا مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا فَإِنَّهُ لاَ يَدْرِي أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seseorang di antara kalian bangun dari waktu malam, maka janganlah ia memasukkan tangannya ke dalam bejana sehingga ia membasuhnya dua atau tiga kali. Karena ia tidak tahu dimanakah tangannya bermalam”. [HR at-Turmudziy: 24, al-Bukhoriy: 162, Muslim: 278, an-Nasa’iy: I/ 6-7, Abu Dawud: 94, 96, Ibnu Majah: 393, Ahmad: II/ 241, 253, 259, 265, 271, 284, 316, 382, 395, 403, 455, 465, 471, 500 dan Ibnu Khuzaimah: 99, 100, 145, 146. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [15]

عن ابن عمر قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم : إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ نَوْمِهِ فَلاَ يُدْخِلْ يَدَهُ فىِ اْلإِنَاءِ حَتىَّ يَغْسِلَهَا

Dari Ibnu Umar berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Apabila seseorang di antara kalian bangun dari tidurnya, maka janganlah ia memasukkan tangannya ke dalam bejana sehingga ia membasuhnya (atau mencucinya)”. [HR Ibnu Majah: 394. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [16]

عن الحارث قَالَ: دَعَا عَلِيٌّ بِمَاءٍ فَغَسَلَ يَدَيْهِ قَبْلَ أَنْ يُدْخِلَهُمَا اْلإِنَاءَ ثُمَّ قَالَ: هَكَذَا رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم صَنَعَ

Dari al-Harits berkata, Ali radliyallahu anhu pernah menyuruh mengambilkan air, lalu ia membasuh kedua tangannya sebelum memasukkannya ke dalam bejana. Kemudian ia berkata, ”Demikianlah aku pernah melihat Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam berbuat”. [Telah mengeluarkan atsar ini Ibnu Majah: 396. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih ]. [17]

عن ابن أبي أوس عن جده أوس قَالَ: رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم تَوَضَّأَ وَ اسْتَوْكَفَ ثَلاَثًا أَيْ غَسَلَ كَفَّيْهِ

Dari Abu Aus dari kakeknya yaitu Aus berkata, Aku pernah melihat Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam wudlu dan mengucurkan (air) tiga kali yaitu membasuh kedua telapak tangannya”. [HR Ahmad: IV/ 9, an-Nasa;iy: I/ 64 dan ad-Darimiy: I/ 176. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih isnadnya]. [18]

عن حمران مولى عثمان أَخْبَرَهُ أَنَّ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانٍ رضي الله عنه دَعَا بِوَضُوْءٍ فَتَوَضَّأَ فَغَسَلَ كَفَّيْهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ .. الخ

Dari Hamran maula (mantan budak)nya  Utsman, ia mengkhabarkan bahwasanya Utsman bin Affan radliyallahu anhu menyuruh mengambil air wudlu. Kemudian ia berwudlu, lalu ia membasuh kedua telapak tangannya tiga kali, dan seterusnya hadits.  [HR Muslim: 226, al-Bukhoriy: 159, 164, 1934, Abu Dawud: 106, an-Nasa’iy: I/ 64, 65, 80, Ahmad: I/ 59, 64, Ibnu Khuzaimah: 3 dan ad-Darimiy: I/ 176. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [19]

عن عمرو بن يحيى (المازني) عن أبيه قَالَ: كَانَ عَمِّي يُكْثِرُ مِنَ اْلوُضُوْءِ قَالَ لِعَبْدِ اللهِ بْنِ زَيْدٍ: أَخْبِرْنىِ كَيْفَ رَأَيْتَ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم يَتَوَضَّأُ؟ فَدَعَا بِتَوْرٍ مِنْ مَاءٍ فَكَفَأَ عَلَى يَدَيْهِ فَغَسَلَهُمَا ثَلاَثَ مِرَارٍ ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فىِ التَّوْرِ فَمَضْمَضَ وَ اسْتَنْثَرَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ مِنْ غُرْفَةٍ وَاحِدَةٍ ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فَاغْتَرَفَ فَغَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ غَسَلَ يَدَيْهِ إِلىَ اْلمـِرْفَقَيْنِ مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ أَخَذَ بِيَدِهِ مَاءً فَمَسَحَ رَأْسَهُ فَأَدْبَرَ بِهِ وَ أَقْبَلَ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ فَقَالَ: هَكَذَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم يَتَوَضَّأُ

Dari Amr bin Yahya al-Maziniy dari Ayahnya berkata, pamanku adalah orang yang banyak berwudlu, ia lalu berkata kepada Abdullah bin Zaid, “Khabarkan kepadaku bagaimana engkau melihat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam wudlu?”. Lalu ia (yaitu Abdullah bin Zaid) menyuruh mengambil bejana yang ada airnya. Maka ia menuangkan (air) atas kedua tangannya lalu membasuhnya tiga kali. Kemudian memasukkan tangannya ke dalam bejana, lalu berkumur-kumur dan istintsar sebanyak tiga kali dari satu cidukan. Kemudian ia memasukkan tangannya (ke dalam bejana tersebut) lalu menciduk (air) dan membasuh wajahnya tiga kali. Kemudian membasuh kedua tangannya sampai kedua siku dua kali dua kali, lalu mengambil air dengan tangannya maka ia mengusap kepalanya, mengebelakangkan dan mengedepankan. Kemudian ia membasuh kedua kakinya lalu berkata, ”Demikianlah aku melihat Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam wudlu”. [HR al-Bukhoriy: 199, 185, 186, 191, 192 dan Muslim: 235. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [20]

 14). Berkumur, Istinsyaq dan istintsar di dalam wudlu.

Di antara sunah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam lainnya yang banyak dilupakan dan disepelekan oleh sebahagian besar kaum muslimin adalah berkumur (madlmadloh), istinsyaq dan istintsar. Terlebih-lebih akan tata caranya yaitu berkumur dan istinsyaq dengan satu cidukan yakni menjadikan separuhnya untuk mulut dan separuh lainnya untuk hidung dengan tangan kanannya lalu beristintsar dengan tangan kirinya.

Rincian makna, penjelasan dan dalil-dalilnya adalah sebagai berikut,

المضمضة (berkumur-kumur) adalah meletakkan air di dalam mulut lalu memutarnya dan membuangnya. [21]
الاستنشاق (istinsyaq) adalah memasukkan (atau menghirup) air ke dalam hidung. [22]
الاستنشار (istintsar) adalah membuang air yang dihirup (istinsyaq) oleh orang yang berwudlu, yaitu yang ditarik oleh angin hidungnya. [23]

 عن أبي أمامة أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ  صلى الله عليه و سلم قَالَ: أَيمُّاَ رَجُلٍ قَامَ إِلىَ وَضُوْئِهِ يُرِيْدُ الصَّلاَةَ ثُمَّ غَسَلَ كَفَّيْهِ نَزَلَتْ خَطِيْئَتُهُ مِنْ كَفَّيْهِ مَعَ أَوَّلِ قَطْرَةٍ فَإِذَا مَضْمَضَ وَ اسْتَنْشَقَ وَ اسْتَنْثَرَ نَزَلَتْ خَطِيْئَتُهُ مِنْ لِسَانِهِ وَ شَفَتَيْهِ مَعَ أَوَّلِ قَطْرَةٍ …إلخ

Dari Abu Umamah radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Siapapun yang berdiri menuju air wudlunya dengan maksud mengerjakan sholat, kemudian ia membasuh kedua telapak tangannya, maka turun (keluar)lah dosanya dari kedua telapak tangannya bersama tetesan air. Apabila ia berkumur-kumur, beristinsyaq dan istintsar maka keluarlah dosanya dari lisan dan bibirnya bersama awalnya tetesan air, dan seterusnya”. [HR Ahmad: V/ 263. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [24]

عن أبي أمامة قَالَ: قَالَ عَمْرٌو بْنُ عَبَسَةَ السُّلَمِيُّ: فَقُلْتُ: يَا نَبِيَّ اللهِ فَالْوُضُوْءُ؟ حَدِّثْنىِ عَنْهُ! قَالَ: مَا مِنْكُمْ رَجُلٌ يُقَرِّبُ وَضُوْءَهُ فَيَتَمَضْمَضُ وَ يَسْتَنْشِقُ فَيَنْتَثِرُ إِلاَّ خَرَّتْ خَطَايَا وَجْهِهِ وَ فِيْهِ وَ خَيَاشِيْمِهِ

Dari Abu Umamah berkata, berkata Amr bin Abasah as-Sulamiy, Aku bertanya, “Wahai Nabiyullah apakah wudlu itu? Ceritakanlah kepadaku!”. Beliau menjawab, “Tidaklah seseorang di antara kalian yang mendekati air wudlunya lalu ia berkumur-kumur, beristinsyaq (menghirup air melalui hidung) lalu istintsar (menyemburkannya lewat hidung pula), melainkan gugurlah dosa-dosa wajah, mulut dan hidungnya”. [HR Muslim: 832, an-Nasa’iy: I/ 91-91 dan Ahmad: IV/ 112. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [25]

عن حمران مولى عثمان أَخْبَرَهُ أَنَّ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانٍ  رضي الله عنه أَنَّهُ رَأَى عُثْمَانَ دَعَا بِوَضُوْءٍ فَأَفْرَغَ عَلَى يَدَيْهِ مِنْ إِنَائِهِ فَغَسَلَهُمَا ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ أَدْخَلَ يَمِيْنَهُ فىِ اْلوَضُوْءِ ثُمَّ تَمَضْمَضَ وَ اسْتَنْشَقَ وَ اسْتَنْثَرَ …إلخ

Dari Hamran maula (mantan budak)nya Ustman, ia mengkhabarkan bahwasanya pernah melihat Utsman bin Affan radliyallahu anhu menyuruh mengambil air wudlu. Kemudian menuangkan (air) atas kedua tangannya dari bejananya lalu membasuh keduanya tiga kali. Kemudian memasukkan tangan kanannya ke dalam air wudlu lalu berkumur-kumur, istisyaq dan istintsar… dst. [HR al-Bukhoriy:159, 164, 1934, Muslim: 226, Abu Dawud: 106, an-Nasa’iy: I/ 64, 65, 80, Ahmad: I/ 59, 64, Ibnu Khuzaimah: 3 dan ad-Darimiy: I/ 176. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [26]

عن عبد خير قَالَ: دَخَلَ عَلِيٌّ الرَّحْبَةَ بَعْدَمَا صَلَّى اْلفَجْرَ فَجَلَسَ فىِ الرَّحْبَةِ ثُمَّ قَالَ لِغُلاَمٍ لَهُ: ايْتِنىِ بِطَهُوْرٍ قَالَ: فَأَتَاهُ اْلغُلاَمُ بِإِنَاءٍ فِيْهِ مَاءٌ وَ طَسْتٍ قَالَ عَبْدُ خَيْرٍ: وَ نَحْنُ جُلُوْسٌ نَنْظُرُ إِلَيْهِ فَأَدْخَلَ يَدَهُ اْليُمْنىَ فَمَلَأَ فَمَهُ فَمَضْمَضَ وَ اسْتَنْشَقَ وَ نَثَرَ بِيَدِهِ اْليُسْرَى فَعَلَ هَذَا ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ قَالَ: مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَنْظُرَ إِلىَ طَهُوْرِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم فَهَذَا طَهُوْرِهِ
      
Dari Abdu Khair berkata, Ali radliyallahu anhu pernah memasuki tanah lapang setelah menunaikan sholat fajar, lalu ia duduk di tanah lapang tersebut. Kemudian Ia berkata kepada bujangnya, “Bawakan kepadaku air (wudlu)!”. Ia berkata (yaitu Abdu Khair), “Lalu bujang tersebut membawakan kepadanya bejana yang terdapat air di dalamnya dan juga sebuah baskom”. Berkata Abdu Khair, “Kemudian kami duduk melihatnya, lalu ia memasukkan tangannya yang kanan serta memenuhi mulutnya (dengan air). Kemudian ia berkumur-kumur, istinsyaq dan istintsar (menyemburkan air tersebut) dengan tangannya yang kiri. Ia melakukannya sebanyak tiga kali, kemudian ia berkata, ”Barangsiapa yang ingin melihat cara bersucinya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam maka inilah cara bersucinya”. [HR ad-Darimiy: I/ 178. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: ini adalah sanadnya Hasan].[27]

عن علي: أَنَّهُ دَعَا بِوَضُوْءٍ فَتَمَضْمَضَ وَ اسْتَنْشَقَ وَ نَثَرَ بِيَدِهِ اْليُسْرَى فَفَعَلَ هَذَا ثَلاَثًا ثُمَّ قَالَ: هَذَا طَهُوْرُ نَبِيِّ اللهِ صلى الله عليه و سلم

Dari Ali radliyallahu anhu bahwasanya ia pernah menyuruh mengambil air wudlu lalu ia berkumur-kumur dan istinsyaq serta menyemburkan (air tersebut) dengan tangannya yang kiri. Ia melakukan hal tersbut tiga kali kemudian berkata, ”Beginilah cara bersucinya Nabiyullah Shallallahu alaihi wa sallam”. [HR an-Nasa’iy: I/ 67. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih isnadnya]. [28]

Riwayat-riwayat hadits di atas menerangkan bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam berkumur-kumur, istinsyaq dan istintsar di dalam berwudlu sebagaimana yang dipersaksikan oleh para shahabat. Dan bahkan Beliau menjelaskan akan keutamaan dari mengerjakan sunnah-sunnah tersebut yakni dengan keluarnya dosa-dosa dari lisan, bibirnya dan hidungnya bersama jatuhnya tetesan air. Oleh sebab itu Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam menyuruh umatnya untuk bersungguh-sungguh di dalam melakukan kumur-kumur, istinsyaq dan istintsar ini, sebagaimana akan diungkap di dalam bab berikut ini.

15). Istinsyaq dan bersungguh-sungguh padanya.

عن أبي هريرة  أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ  صلى الله عليه و سلم قَالَ: إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَلْيَجْعَلْ فىِ أَنْفِهِ مَاءً ثُمَّ لِيَسْتَنْثِرْ

Dari Abu Hurairah bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seseorang di antara kalian wudlu maka hendaklah ia meletakkan air pada hidungnya (istinsyaq) kemudian keluarkanlah (istintsar)”. [HR an-Nasa’iy: I/ 66, Abu Dawud: 140, Ahmad: II/ 242, al-Bukhoriy: 162 dan Muslim: 237. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [29]

Berkata asy-Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Alu Bassam rahimahullah, “Wajibnya istinsyaq dan istintsar”. Berkata al-Imam Nawawiy rahimahullah, “Di dalam hadits ini terdapat dalil yang jelas bahwa istintsar itu bukanlah istinsyaq”. [30]

عن لقيط بن صبرة قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ أَخْبِرْنىِ عَنِ اْلوُضُوْءِ! قَالَ: أَسْبِغِ اْلوُضُوْءَ وَ بَالِغْ فىِ اْلاِسْتِنْشَاقِ إِلاَّ أَنْ تَكُوْنَ صَائِمًا
     
Dari Luqaith bin Shabrah berkata, aku bertanya, “Wahai Rosulullah kabarkan kepadaku tentang wudlu!”. Beliau menjawab, “Sempurnakan wudlu dan bersungguh-sungguhlah di dalam istinsyaq kecuali jika kamu sedang shaum”. [HR an-Nasa’iy: I/ 66, Abu Dawud: 142, Ibnu Majah: 407, Ibnu Khuzaimah: 150, 168, al-Hakim: 537 dan Ahmad: IV/ 33. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahiih]. [31]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah,
 “Terdapat penjelasan tentang sunnah-sunnah wudlu berupa menyempurnakannya, menyela-nyela di antara jari jemari kedua kaki dan bersungguh-sungguh di dalam melakukan istinsyaq.

Bersungguh-sungguh di dalam melakukan istinsyaq itu adalah sunnah kecuali di dalam keadaan shaum. Karena dikhawatirkan masuknya air ke dalam rongga (mulut atau hidung)nya.
Orang yang shaum berkumur-kumur tapi tidak menjalankannya atas kedua bibirnya (dengan air) sebagaimana dilakukan oleh kaum awam. Perbuatan ini adalah suatu kekeliruan yang tidak cukup hanya berkumur-kumur, juga menyelisihi syariat dan membuat-buat bid’ah di dalam agama, yang tidak pernah didatangkan oleh salah seorangpun shahabat, tidak tabi’in dan juga tidak pernah diperintahkan oleh Nabi Shallallahu alaihi wa sallam”. [32]

16). Perintah beristintsar.

Setelah air dihirup setengah oleh mulut untuk berkumur-kumur lalu dikeluarkan dengan cara disemburkan oleh mulut. Dan setengah lagi dihisap oleh hidung untuk istinsyaq maka langkah selanjutnya adalah mengeluarkan air tersebut dengan cara menghembuskannya keluar melalui hidung yang disebut dengan istintsar. Berkumur-kumur dan istinsyaq itu dilakukan dalam waktu yang bersamaan, namun ketika mengeluarkan air melalui hidung dan mulut maka untuk lebih mudahnya adalah istintsar dahulu melalui hidung, baru kemudian menyemburkan air melalui mulut. Wallahu a’lam.

عن أبي هريرة عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ مَنَامِهِ فَتَوَضَّأْ فَلْيَسْتَنْثِرْ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَبِيْتُ عَلَى خَيْشُوْمِهِ
      
Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ”Apabila seseorang diantara kalian bangun dari tidurnya maka berwudlulah lalu beristintsar tiga kali karena sesungguhnya setan bermalam di dalam lubang hidungnya”. [HR an-Nasa’iy: I/ 67, al-Bukhoriy: 3295, Muslim: 238, Ibnu Khuzaimah: 149, Ahmad: II/ 352, Abu Uwanah dan al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [33]

عن أبي هريرة أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: مَنْ تَوَضَّأَ فَلْيَسْتَنْثِرْ وَ مَنِ اسْتَجْمَرَ فَلْيُوْتِرْ
          
Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ”Barangsiapa yang wudlu maka hendaklah beristintsar dan barangsiapa yang istinja’ maka hendaklah ganjil”. [HR an-Nasa’iy: I/ 66-67, Ibnu Majah: 409, al-Bukhoriy: 161 dan ad-Darimiy: I/ 178. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [34]

عن سلمة بن قيس (الأشجعي) أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ  صلى الله عليه و سلم قَالَ: إِذَا تَوَضَّأْتَ فَاسْتَنْثِرْ وَ إِذَا اسْتَجْمَرْتَ فَأَوْتِرْ
   
Dari Salamah bin Qois al-Asyja’iy radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah  Shallallahu alaihi wa sallam  bersabda, “Apabila engkau wudlu maka istintsarlah dan apabila engkau istinja’ maka ganjilkanlah”. [HR an-Nasa’iy: I/ 67, at-Turmudziy: 27, Ibnu Majah: 406 dan Ahmad: IV/ 339, 340. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].[35]

عن ابن عباس قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ  صلى الله عليه و سلم: اسْتَنْثِرُوْا مَرَّتَيْنِ بَالِغَتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا

Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma berkata, telah bersabda Rosulullah  Shallallahu alaihi wa sallam, ”Istintsarlah dua kali atau tiga kali secara bersungguh-sungguh”. [HR Abu Dawud: 141, Ibnu Majah: 408 dan Ahmad: I/ 228. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [36]

Berkata al-Imam asy-Syaukaniy rahimahullah, ”Hadits ini menunjukkan atas wajibnya istintsar”. [37]

Beberapa dalil  di atas dengan jelas dan gamblang menerangkan akan perintah istintsar yang banyak diabaikan dan bahkan disepelekan oleh sebahagian besar kaum muslimin. Tak sedikit dijumpai dari kaum muslimin yang memulai wudlu mereka dengan membasuh muka terlebih dahulu tanpa membasuh kedua telapak tangan, berkumur-kumur, istinsyaq dan istintsar.

Kondisi memprihatinkan tersebut boleh jadi mungkin disebabkan oleh ketiadaan waktu bagi mereka untuk menuntut ilmu dari ilmu-ilmu agama atau  mungkin ilmu yang berkaitan dengan perkara ini belum atau barangkali tidak diajarkan oleh ustadz-ustadz mereka padahal dalil-dalil haditsnya tidaklah satu dan banyak bertebaran di dalam kitab-kitab hadits dan fikih. Atau mungkin mereka tidak terlalu mempedulikan ajaran agama mereka lantaran mereka lebih terpesona dengan ilmu-ilmu dunia yang ditebar dan disebarkanluaskan oleh orang-orang kafir dalam rangka mengalihkan perhatian kaum muslimin dari ilmu akhirat kepada ilmu dunia.

17). Berkumur-kumur dan istinsyaq dari satu telapak tangan.

عن ابن عباس أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم مَضْمَضَ وَ اسْتَنْشَقَ مِنْ غُرْفَةٍ وَاحِدَةٍ

Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma bahwasanya Rosulullah  Shallallahu alaihi wa sallam  berkumur-kumur dan istinsyaq dari satu cidukan. [HR Ibnu Majah: 403. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy Shahih]. [38]

عن علي أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم تَوَضَّأَ فَمَضْمَضَ ثَلاَثًا وَ اسْتَنْشَقَ ثَلاَثًا مِنْ كَفٍّ وَاحِدٍ
Dari Ali radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah  Shallallahu alaihi wa sallam  berwudlu lalu berkumur-kumur tiga kali dan istinsyaq tiga kali dari satu telapak tangan. [HR Ibnu Majah: 404. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [39]

عن عبد الله بن زيد الأنصاري قَالَ: أَتَانَا رَسُوْلُ اللهِ  صلى الله عليه و سلم فَسَأَلَنَا وَضُوْءًا فَأَتَيْتُهُ بِمَاءٍ فَمَضْمَضَ وَ اسْتَنْشَقَ مِنْ كَفٍّ وَاحِدٍ

Dari Abdullah bin Zaid al-Anshoriy radliyallahu anhu berkata, Rosulullah  Shallallahu alaihi wa sallam  pernah datang kepada kami lalu meminta air wudlu kepada kami. Maka kami bawakan kepadanya air lalu Beliau berkumur-kumur dan beristinsyaq dari satu telapak tangan”. [HR Ibnu Majah: 405 dan at-Turmudziy: 28. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].  [40]

عن عمرو بن يحيى (المازني) عن أبيه قَالَ: شَهِدْتُ عَمْرَو بْنَ أَبيِ حَسَنٍ سَأَلَ عَبْدَ اللهِ بْنَ زَيْدٍ عَنْ وُضُوْءِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم فَدعَا بِتَوْرٍ مِنْ مَاءٍ فَتَوَضَّأَ لَهُمْ فَكَفَأَ عَلَى يَدَيْهِ فَغَسَلَهُمَا ثَلاَثًا ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فىِ اْلإِنَاءِ فَمَضْمَضَ وَ اسْتَنْشَقَ وَ اسْتَنْثَرَ ثَلاَثًا بِثَلاَثِ غُرَفَاتٍ مِنْ مَاءٍ ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فىِ اْلإِنَاءِ فَغَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَثًا ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فىِ اْلإِنَاءِ فَغَسَلَ يَدَيْهِ إِلىَ اْلمـِرْفَقَيْنِ مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فىِ اْلإِنَاءِ فَمَسَحَ بِرَأْسِهِ فَأَقْبَلَ بِيَدَيْهِ وَ أَدْبَرَ بِهِمَا ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فىِ اْلإِنَاءِ فَغَسَلَ رِجْلَيْهِ

Dari Amr bin Yahya al-Maziniy dari ayahnya berkata, aku pernah menyaksikan Amr bin Abi Hasan bertanya kepada Abdullah bin Zaid radliyallahu anhu tentang wudlunya Nabi  Shallallahu alaihi wa sallam. Maka ia menyuruh mengambilkan bejana yang berisi air. Maka ia berwudlu untuk mereka lalu menuangkan atas kedua tangannya dan membasuh keduanya. Kemudian Beliau memasukkan tangannya ke dalam bejana lalu berkumur-kumur, istinsyaq dan istintsar tiga kali dengan tiga cidukan dari air. Kemudian Beliau memasukkan tangannya ke dalam bejana lalu membasuh wajahnya tiga kali. Kemudian memasukkan tangannya ke dalam bejana lalu membasuh kedua tangannya sampai kedua siku dua kali dua kali. Kemudian memasukkan tangannya ke dalam bejana lalu mengusap kepalanya dengan kedua tangannya ke depan dan ke belakang. Kemudian memasukkan tangannya ke dalam bejana lalu membasuh kedua kakinya. [HR al-Bukhoriy: 192, 199, 185, 186,191 dan Muslim: 235. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [41]

Berkata al-Imam an-Nawawiy rahimahullah, ”Di dalam hadits ini terdapat bukti nyata bagi madzhab shahih lagi terpilih bahwasanya sunnah di dalam berkumur-kumur dan istinsyaq itu adalah tiga cidukan, berkumur-kumur dan istinsyaq masing-masing satu darinya”. [42]

Berkata asy-Syaikh al Albaniy rahimahullah, ”Ini adalah merupakan sunnah yang tetap dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam kaifiyat (cara) berkumur-kumur dan istinsyaq. Yaitu berkumur-kumur dan istinsyaq dari satu cidukan yang ia mengambil separuhnya untuk mulut dan separuhnya lagi untuk hidung. Ia melakukan hal tersebut sebanyak tiga kali. [43]

Beberapa dalil hadits dan penjelasan di atas menggambarkan tentang cara berkumur-kumur, istinsyaq dan istintsarnya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Yakni menciduk atau menampung air dengan menggunakan telapak tangan yang kanan lalu memasukkannya yang separuh ke mulut (berkumur-kumur) dan separuhnya yang lainnya ke hidung (istinsyaq). Lalu menyemburkannya melalui hidungnya (istintsar) dengan tangan kirinya serta mengeluarkan air yang ada di mulutnya. Dan beliau melakukan hal tersebut dengan tiga kali cidukan, namun boleh juga sekali atau dua kali cidukan”.

Namun yang pernah beliau lakukan tersebut, tidak atau belum dicontoh oleh sebahagian besar umatnya. Karena banyak dijumpai mereka tidak melakukan ketiganya, atau hanya berkumur-kumur saja, atau hanya berkumur-kumur lalu memasukkan ibu jari dan telunjuk ke lubang hidung untuk membersihkannya atau memisahkan antara berkumur-kumur dan membersihkan lubang hidung masing-masing dengan cidukan air yang berbeda atau selainnya. Maka perbuatan dan perilaku mereka yang seperti itu jelas suatu kesalahan dan kekeliruan lantaran tidak sesuai dengan apa yang disunnahkan oleh Nabi mereka Shallallahu alaihi wa sallam.

 18). Dengan tangan yang manakah berkumur-kumur, istinsyaq dan istintsar ?.

قَالَ عَبْدُ خَيْرٍ: وَ نَحْنُ جُلُوْسٌ نَنْظُرُ إِلَيْهِ فَأَدْخَلَ يَدَهُ اْليُمْنىَ فَمَلأَ فَمَهُ فَمَضْمَضَ وَ اسْتَنْشَقَ وَ نَثَرَ بِيَدِهِ اْليُسْرَى فَعَلَ هَذَا ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ قَالَ: مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى طَهُوْرِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم فَهَذَا طَهُوْرُهُ

Berkata Abdu Khair, Kemudian kami duduk melihatnya (yaitu Ali radliyallahu anhu), lalu ia memasukkan tangannya yang kanan serta memenuhi mulutnya (dengan air). Kemudian ia berkumur-kumur, istinsyaq dan menyemburkan (air tersebut) dengan tangannya yang kiri. Ia melakukannya sebanyak tiga kali, kemudian ia berkata, ”Barangsiapa yang ingin melihat cara bersucinya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam maka inilah cara bersucinya”. [HR ad-Darimiy: I/ 178.   Berkata asy-Syaikh al-Albany: ini adalah sanadnya Hasan].  [44]

عن حمران مولى عثمان أَخْبَرَهُ أَنَّ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانٍ رضي الله عنه أَنَّهُ رَأَى عُثْمَانَ دَعَا بِوَضُوْءٍ فَأَفْرَغَ عَلَى يَدَيْهِ مِنْ إِنَائِهِ فَغَسَلَهُمَا ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ أَدْخَلَ يَمِيْنَهُ فىِ اْلوُضُوْءِ ثُمَّ تَمَضْمَضَ وَ اسْتَنْشَقَ وَ اسْتَنْثَرَ …إلخ

Dari Hamran maula (mantan budak)nya Utsman, ia mengkhabarkan bahwasanya ia pernah melihat Utsman bin Affan radliyallahu anhu menyuruh mengambil air wudlu. Kemudian ia menuangkan (air) atas kedua tangannya dari bejananya lalu membasuh keduanya tiga kali. Kemudian memasukkan tangan kanannya ke dalam air wudlu lalu berkumur-kumur, istinsyaq dan istintsar … dst. [HR al-Bukhory: 159, 164, 1934, Muslim: 226, Abu Dawud: 106, an-Nasa’iy: I/ 64, 65, 80, Ahmad: I/ 59, 64, Ibnu Khuzaimah: 3 dan  ad-Darimiy: I: 176. Berkata asy-Syaikh al-Albany: Shahih]. [45]

عن علي رضي الله عنه أَنَّهُ دَعَا بِوَضُوْءٍ فَتَمَضْمَضَ وَ اسْتَنْشَقَ وَ نَثَرَ بِيَدِهِ اْليُسْرَى فَفَعَلَ هَذَا ثَلاَثًا ثُمَّ قَالَ: هَذَا طَهُوْرُ نَبِيِّ اللهِ صلى الله عليه و سلم

Dari Ali radliyallahu anhu bahwasanya ia pernah menyuruh mengambil air wudlu lalu ia berkumur-kumur dan istinsyaq serta menyemburkan (air tersebut) dengan tangannya yang kiri. Ia melakukan hal tersebut tiga kali kemudian ia berkata, ”Beginilah cara bersucinya Nabiyullah Shallallahu alaihi wa sallam”. [HR an-Nasa’iy: I/ 67. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih isnadnya]. [46]

Berkata al-Imam asy-Syaukaniy rahimahullah, ”Di dalam hadits ini bersama dalil yang sebelumnya menjadi dalil bahwasanya yang sunnah adalah beristinsyaq dengan tangan kanan dan istintsar dengan tangan kiri”. [47]

Jadi cara melakukannya adalah memasukkan air dengan satu cidukan ke mulut untuk berkumur-kumur dan ke hidung untuk beristinsyaq dengan tangan kanan dan menyemburkannya (istintsar) dengan tangan kiri.

19). Membasuh Wajah.

Setelah berkumur-kumur, istinsyaq dan istintsar sebagaimana yang diperintahkan dan dicontohkan oleh Rosulullah  maka amalan selanjutnya adalah membasuh wajah dengan kedua tangan sampai batas-batas wajah yang telah ditentukan oleh syariat. Membasuh wajah ini dilakukan dengan sekali basuhan atau dua kali basuhan atau juga tiga kali basuhan, tidak boleh lebih.

قال الله سبحانه و تعالى ((فَاغْسِلُوْا وُجُوهَكُمْ))

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, ((Maka basuhlah wajah-wajah kalian)).
Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, ”Yaitu setelah membasuh kedua telapak tangan tiga kali, berkumur-kumur, istinsyaq dan istintsar tiga kali tiga kali karena penjelasan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam tentang hal tersebut”. [48]

Berkata al-Imam al-Baghowiy rahimahullah, ”Batas wajah adalah dari tempat tumbuhnya rambut turun sampai ke ujung dagu dan melebar di antara dua daun telinga yang wajib membasuh semuanya di dalam wudlu”. [49]

عن عبد خير قَالَ: أَتَيْنَا عَلِيَّ ابْنَ أَبيِ طَالِبٍ  رضي الله عنه وَ قَدْ صَلَّى فَدَعَا بِطَهُوْرٍ فَقُلْنَا: مَا يَصْنَعُ بِهِ وَ قَدْ صَلَّى؟ مَا يُرِيْدُ إِلاَّ لِيُعَلِّمَنَا فَأُتِيَ بِإِنَاءٍ فِيْهِ مَاءٌ وَ طَسْتٍ فَأَفْرَغَ مِنَ اْلمـَاءِ عَلَى يَدَيْهِ فَغَسَلَهَا ثَلاَثًا مِنَ اْلكَفِّ الَّذِى يَأْخُذُ بِهِ اْلمـَاءَ ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَثًا وَ غَسَلَ يَدَهُ اْليُمْنىَ ثَلاَثًا وَ يَدَهُ الشِّمَالَ ثَلاَثًا وَ مَسَحَ بِرَأْسِهِ مَرَّةً وَاحِدَةً ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَهُ اْليُمْنىَ ثَلاَثًا وَ رِجْلَهُ الشِّمَالَ ثَلاَثًا ثُمَّ قَالَ: مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَعْلَمَ وُضُوْءَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم فَهُوَ هَذَا
     
Dari Abdu Khair berkata, kami pernah mendatangi Ali bin Abi Thalib radliyallahu anhu dan sungguh-sungguh ia telah menunaikan sholat. Lalu ia menyuruh mengambilkan air untuk bersuci. Maka kami bertanya, “Apa yang hendak ia lakukan padahal ia telah sholat?”. Tiada yang diinginkannya melainkan untuk memberi pengajaran kepada kami. Lalu didatangkan kepadanya sebuah bejana yang di dalamnya terdapat air dan juga sebuah baskom. Maka ia menuangkan air kepada kedua tangannya lalu ia membasuhnya tiga kali dari telapak tangan yang mengambil air tersebut. Kemudian ia membasuh wajahnya tiga kali, membasuh tangannya yang kanan tiga kali dan juga tangannya yang kiri tiga kali serta mengusap kepalanya sekali. Kemudian ia membasuh kakinya yang kanan tiga kali dan kakinya yang kiri tiga kali, kemudian berkata, ”Barangsiapa yang ingin memngetahui wudlunya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam maka inilah dia”. [HR an-Nasa’iy: I/ 68 dan Abu Dawud: 111. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [50]

و عن حمران مولى عثمان أَخْبَرَهُ أَنَّ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانٍ رضي الله عنه دَعَا بِوَضُوْءٍ فَتَوَضَّأَ فَغَسَلَ كَفَّيْهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ مَضْمَضَ وَ اسْتَنْثَرَ ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ

Dari Hamran maula (mantan budak)nya Utsman, ia mengkhabarkan bahwasanya Utsman bin Affan radliyallahu anhu menyuruh mengambil air wudlu. Kemudian ia berwudlu, lalu ia membasuh kedua tangannya tiga kali, lalu berkumur-kumur dan istintsar lalu membasuh wajahnya tiga kali. [HR Muslim: 226, al-Bukhoriy: 159, 164, 1934, Abu Dawud: 106, an-Nasa’iy: I/ 64, 65, 80, Ahmad: I/ 59, 64, Ibnu Khuzaimah: 3 dan ad-Darimiy: I/ 176. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [51]

Setelah orang yang sedang berwudlu itu berkumur-kumur, istinsyaq dan istintsar maka dilanjutkan dengan membasuh wajah sebanyak tiga kali. Ukuran atau batas wajah adalah tempat tumbuhnya rambut lalu turun sampai ke ujung dagu dan melebar di antara dua daun telinga. Batas wajah tersebut wajib dibasuh merata dengan air wudlu.

Membasuh wajah itu dengan cara menggosok-gosokkan telapak tangan yang berisi air pada wajah secara merata. Tidak seperti yang dilakukan oleh sebahagian mereka yang hanya menyirami wajahnya saja atau menekan-nekannya sedikit karena khawatir merusak atau menghapus riasan pada wajah mereka dengan kosmetika. Padahal menggunakan alat-alat kosmetik dengan tujuan berhias atau tabarruj itu jelas-jelas telah dilarang oleh banyak dalil. [52]

 20). Menyela-nyela jenggot.

Bagi yang memiliki jenggot lebat [53] disyariatkan untuk menyela-nyela jenggotnya pada saat membasuh wajahnya. Hal ini selain mengikuti sunnah dan perintah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, juga agar air itu masuk meresap ke dalam kulit wajah.

Adapun dalil-dalil contoh dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam ketika menyela-nyela jenggotnya adalah sebagai berikut,

عن عمار بن ياسر قَالَ: رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ  صلى الله عليه و سلم يُخَلِّلُ لِحْيَتَهُ

Dari Ammar bin Yasir berkata, ”Aku pernah melihat Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam menyela-nyela jenggotnya”. [HR Ibnu Majah: 429 dan at-Turmudziy: 29. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [54]

Berkata al-Imam al-Mubarakfuriy rahimahullah, ”Hadits ini menunjukkan disyariatkannya menyela-nyela jenggot di dalam wudlu”.  [55]

عن عثمان أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم تَوَضَّأَ فَخَلَّلَ لِحْيَتَهُ

Dari Utsman bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam berwudlu lalu menyela-nyela jenggotnya. [HR Ibnu Majah: 430 dan ad-Darimiy: I/ 178-179. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [56]

عن أبي أيوب الأنصاري قَالَ: رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم تَوَضَّأَ فَخَلَّلَ لِحْيَتَهُ

Dari Abu Ayyub al-Anshoriy radliyallahu anhu berkata, “Aku pernah melihat Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam berwudlu lalu menyela-nyela jenggotnya”. [HR Ibnu Majah: 433. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [57]

عن أنس –يعني ابن مالك-: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم كَانَ إِذَا تَوَضَّأَ أَخَذَ كَفًّا مِنْ مَاءٍ فَأَدْخَلَهُ تَحْتَ حَنَكِهِ فَخَلَّلَ بِهِ لِحْيَتَهُ وَ قَالَ هَكَذَا أَمَرَنيِ رَبيِّ عز و جل

Dari Anas bin Malik radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam apabila berwudlu mengambil satu telapak tangan air lalu memasukkannya ke bawah dagunya lalu menyela-nyela jenggotnya dengannya dan Beliau bersabda, “Demikianlah Rabb Azza wa Jalla telah memerintahku”. [HR Abu Dawud: 145. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [58]

Yaitu pada waktu membasuh wajah, memasukkan jari jemari tangan ke dalam sela-sela jenggot lalu menggosok-gosoknya.

Berkata al-Imam asy-Syaukaniy rahimahullah, ”Dua hadits tersebut (yaitu hadits dari Utsman dan Anas radliyallahu anhuma) menjadi dalil atas disyariatkannya menyela-nyela jenggot”.[59]

Berkata asy-Syafi’iy, Abu Hanifah dan para shahabat keduanya, ats-Tsauriy, al-Awza’iy, al-Laitsiy, Ahmad bin Hambal, Ishaq, Abu Tsaur, Dawud, ath-Thabariy dan kebanyakan ahli ilmu,

”Menyela-nyela jenggot wajib pada waktu mandi janabat dan tidak wajib pada waktu wudlu”. [60]

21). Membasuh kedua tangan.

Selanjutnya adalah membasuh kedua tangan sampai kedua siku. Dimulai dari sebelah kanan dan kemudian sebelah kiri. Masing-masing dibasuh dengan sekali basuhan sekali basuhan atau dua kali basuhan dua kali basuhan atau juga tiga kali basuhan tiga kali basuhan, tidak boleh lebih darinya.

قال الله سبحانه و تعالى ((فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَ أَيْدِيَكُمْ إِلَى اْلمـَرَافِقِ))

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, ((Maka basuhlah wajah dan tangan kalian sampai siku)).
Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, ”((Dan tangan kalian sampai siku)) yaitu meliputi pembasuhan kedua pergelangan tangan, dua lengan hasta sampai ke pangkal lengan atas. Kedua sikupun masuk ke dalam perintah pembasuhan”.[61]

عن الحسن بن علي قَالَ: دَعَانيِ أَبيِ عَلِيٌّ بِوَضُوْءٍ فَقَرَّبْتُهُ لَهُ فَبَدَأَ فَغَسَلَ كَفَّيْهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ قَبْلَ أَنْ يُدْخِلَهُمَا فىِ وَضُوْئِهِ ثُمَّ مَضْمَضَ ثَلاَثًا وَ اسْتَنْثَرَ ثَلاَثًا ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ اْليُمْنىَ إِلىَ اْلمِرْفَقِ ثَلاَثًا ُثمَّ اْليُسْرَى كَذَلِكَ ثُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ مَسْحَةً وَاحِدَةً ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَهُ اْليُمْنىَ إِلىَ اْلكَعْبَيْنِ ثَلاَثًا ثُمَّ اْليُسْرَى كَذَلِكَ ثُمَّ قَالَ قَائِمًا فَقَالَ: نَاوِلْنىِ فَنَاوَلْتُهُ اْلإِنَاءَ الَّذِى فِيْهِ فَضْلُ وُضُوْئِهِ فَشَرِبَ مِنْ فَضْلِ وُضُوْئِهِ قَائِمًا فَعَجِبْتُ فَلَمَّا رَآنىِ قَالَ: لاَ تَعْجَبْ فَإِنيِّ رَأَيْتُ أَبَاكَ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم يَصْنَعُ مِثْلَ مَا رَأَيْتَنيِ صَنَعْتُ يَقُوْلُ لِوُضُوْئِهِ هَذَا وَ شَرِبَ فَضْلَ وُضُوْئِهِ قَائِمًا
      
Dari al-Hasan bin Ali berkata, ayahku Ali (bin Abi Thalib) menyuruhku mengambilkan air wudlu. Maka aku membawakannya untuknya. Maka ia mulai (berwudlu), lalu membasuh kedua telapak tangannya tiga kali sebelum memasukkan keduannya ke dalam air wudlu. Kemudian berkumur-kumur tiga kali dan istintsar tiga kali lalu membasuh wajahnya tiga kali. Kemudian membasuh tangannya yang kanan sampai kedua siku tiga kali lalu yang kiri seperti itu pula. Kemudian mengusap kepalanya sekali usap lalu membasuh kakinya yang kanan sampai dua mata kaki tiga kali dan yang kiri seperti itu juga. Kemudian ia berdiri seraya berkata, ”Raihkan kepadaku!”. Lalu aku meraih bejana itu yang di dalamnya terdapat sisa air wudlu. Lalu ia minum dari sisa air wudlunya sambil berdiri. Aku merasa heran. Maka ketika ia melihatku, ia berkata, ”Janganlah engkau merasa heran karena sesungguhnya aku pernah melihat kakekmu yaitu Nabi Shallallahu alaihi wa sallam melakukan seperti yang engkau melihatku melakukannya. Beliau berbuat [62] kepada air wudlunya seperti ini dan meminum sisa air wudlunya sambil berdiri”. [HR an-Nasa’iy: I/ 69-70. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy Shahih]. [63]

Di dalam riwayat yang lain dari Amr bin Yahya al-Maziniy, menceritakan tentang Abdullah bin Zaid radliyallahu anhu yang memperagakan cara berwudlunya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

ثُمَّ غَسَلَ يَدَيْهِ مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ إِلىَ اْلمـِرْفَقَيْنِ
       
Kemudian membasuh tangannya dua kali dua kali sampai kedua siku. [HR Abu Dawud: 118, an-Nasa’iy: I/ 70-71, 71, Ibnu Majah: 434 dan at-Turmudzy: 32. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [64]

Juga dari diriwayatkan oleh Abdu Khair, menceritakan tentang Ali bin Abi Thalib radliyallahu anhu yang sedang memperagakan cara berwudlunya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

وَ غَسَلَ يَدَهُ اْليُمْنىَ ثَلاَثًا وَ يَدَهُ الشِّمَالَ ثَلاَثًا
    
Dan membasuh tangannya yang kanan tiga kali dan juga tangannya yang kiri tiga kali [HR an-Nasa’iy: I/ 68 dan Abu Dawud: 111. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [65]

Dan juga apa yang diriwayatkan oleh Hamran maulanya Utsman, menceritakan tentang Utsman bin Affan radliyallahu anhu yang mencontohkan cara berwudlunya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ اْليُمْنىَ إِلىَ اْلمـِرْفَقِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ اْليُسْرَى مِثْلَ ذَلِكَ

Lalu membasuh tangannya yang kanan  sampai siku tiga kali dan membasuh tangannya yang kiri seperti itu pula. [HR Muslim: 226, al-Bukhoriy: 159, 164, 1934, Abu Dawud: 106, an-Nasa’iy: I/ 64, 65, 80, Ahmad: I/ 59, 64, Ibnu Khuzaimah: 3 dan ad-Darimiy: I/ 176. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [66]

Abu Umamah radliyallahu anhu telah bercerita bahwasanya Amr bin Abasah as-Sulamiy radliyallahu anhu bertanya kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tentang cara berwudlu. Lalu Beliau menjawab, di antaranya adalah,

ثُمَّ يَغْسِلُ يَدَيْهِ إِلىَ اْلمـِرْفَقَيْنِ إِلاَّ خَرَّتْ خَطَايَا يَدَيْهِ مِنْ أَنَامِلِهِ مَعَ اْلمـَاءِ
       
   Lalu membasuh kedua tangannya sampai kedua siku melainkan akan gugurlah dosa-dosa tanganya dari jari jemarinya bersama tetesan air. [HR Muslim: 283, an-Nasa’iy: I/ 91-92 dan Ahmad IV/ 112. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [67]

Demikian beberapa dalil hadits tentang cara berwudlunya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang dipersaksikan oleh para shahabat radliyallahu anhum. Yakni di antaranya adalah menyela-nyela jari jemari dan membasuh kedua tangan sampai kedua sikunya. Mengedarkan air atau menyiramkan air dari siku bagian atas, ke lengan bawah lalu ke telapak dan jari jemari tangan dengan menggosok-gosoknya secara merata, tidak meninggalkan dari pembasuhan kedua tangan tersebut meskipun hanya sebesar uang dirham.

22). Disukai memanjangkan belang putih di dalam wudlu.

عن نعيم بن عبد الله المجمر قَالَ: رَأَيْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَتَوَضَّأُ فَغَسَلَ وَجْهَهُ فَأَسْبَغَ اْلوُضُوْءَ ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ اْليُمْنىَ حَتىَّ أَشْرَعَ فىِ اْلعَضُدِ ثُمَّ يَدَهُ اْليُسْرَى حَتىَّ أَشْرَعَ فىِ اْلعَضُدِ ثُمَّ مَسَحَ رَأْسَهُ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَهُ اْليُمْنىَ حَتىَّ أَشْرَعَ فىِ السَّاقِ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَهُ اْليُسْرَى حَتىَّ أَشْرَعَ فىِ السَّاقِ ثُمَّ قَالَ: هَكَذَا رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَتَوَضَّأُ وَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلَ اللهِ  صلى الله عليه و سلم: أَنْتُمُ اْلغُرُّ اْلمـُحَجَّلُوْنَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ مِنْ إِسْبَاغِ اْلوُضُوْءِ فَمَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ فَلْيُطِلْ غُرَّتَهُ وَ تَحْجِيْلَهُ
      
     Dari Nu’aim bin Abdullah al-Mujmir berkata, aku pernah melihat Abu Hurairah wudlu maka ia membasuh wajahnya lalu menyempurnakan wudlu. Kemudian ia membasuh tangan kanannya sehingga masuk ke lengan atas lalu tangan kirinya sehingga masuk ke lengan atas. Kemudian mengusap kepalanya lalu membasuh kaki kananya sehingga ke betis dan membasuh kaki kirinya sehingga masuk ke betis. Kemudian berkata, ”Demikian aku melihat Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam berwudlu”. Ia berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, ”Kalian adalah orang-orang belang putih (kaki, tangan dan wajahnya) pada hari kiamat dari sebab menyempurnakan wudlu. Maka barangsiapa yang mampu di antara kalian, hendaklah ia memperpanjang belangnya”. [HR Muslim: 246 dan Abu Uwanah. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [68]

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy rahimahullah, ”Ucapannya di dalam hadits, ”Maka barangsiapa yang mampu… merupakan mudraj [69]dari seseorang di antara perawinya bukan dari ucapan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam sebagaimana telah disebutkan oleh banyak hafizh, sebagaimana telah dikatakan oleh al-Mundziriy di dalam at-Targhib. Dan hadits ini menurut mereka adalah riwayat Nu’aim bin al-Mujmir dari Abu Hurairah. Al-Imam Ahmad telah menerangkan di dalam riwayatnya (II/ 334, 523) bahwasanya hadits ini mudraj. Ia juga berkata di akhir hadits, berkata Nu’aim, ”Aku tidak tahu ucapan, ”(Barangsiapa yang mampu memanjangkan belangnya, hendaklah ia melakukanya)”, apakah ini dari ucapan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam atau dari ucapan Abu Hurairah?”. [70]

Berkata al-Hafizh rahimahullah, ”Aku tidaklah melihat kalimat ini di dalam riwayat salah seorang dari yang meriwayatkan hadits ini dari para shahabat dan mereka itu ada sepuluh (orang) dan tidak juga dari orang yang meriwayatkan dari Abu Hurairah kecuali riwayat Nu’aim ini”. [71]

Berkata syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, ”Lafazh ini tidak mungkin dari ucapan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam karena belang putih tidak berada di tangan, tidak ada kecuali di wajah. Dan memanjangkannya tidak mungkin karena masuk ke dalam bahagian kepala, maka hal tersebut tidak dinamakan belang, demikian dikatakan didalam kitab i’lam al-Muwaqqi’in”. [72]

عن جابر بن عبد الله قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم إِذَا تَوَضَّأَ أَدَارَ اْلمـَاءَ عَلَى مِرْفَقَيْهِ
       
    Dari Jabir bin Abdullah berkata, ”Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam apabila berwudlu mengedarkan air ke atas kedua sikunya”. [HR ad-Daruquthniy: 268 dan al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].  [73]

Jadi ringkasnya bahwasanya disyariatkan membasuh kedua tangan sampai ke dua siku dimulai dari yang kanan kemudian yang kiri dengan cara mengedarkan air ke atas kedua sikunya. Kedua tangan itu meliputi ke dua telapak tangan, kedua hasta dan kedua siku bahagian atas atau kedua pangkal lengan atas.

23). Perintah menyela-nyela jari jemari tangan.

Sunnah nabi lain yang kurang diperhatikan oleh umat ini adalah menyela-nyela jari jemari ketika berwudlu. Banyak di antara mereka yang dijumpai dalam keadaan memanjangkan kukunya,[74] mengecatnya dengan sesuatu yang menutupi kukunya (kutek misalnya) dan sebagainya. Sehingga tetesan air wudlu tidak meresap dan mencapai tempat-tempat yang seharusnya terbasahi yaitu kuku dan bahagian sekitar tumbuhnya kuku. Apalagi jikalau mereka tidak menyela-nyela jari jemarinya tentu kesempurnaan wudlu itu amat jauh dari yang diharapkan.

Adapun bukti-bukti di dalam hadits tentang diperintahkannya untuk menyela-nyela jari jemari adalah sebagai berikut,

عن لقيط بن صبرة قَالَ: فَقُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ أَخْبِرْنيِ عَنِ اْلوُضُوْءِ! قَالَ: أَسْبِغِ اْلوُضُوْءَ وَ خَلِّلْ بَيْنَ اْلأَصَابِعِ وَ بَالِغْ فىِ اْلاِسْتِنْشَاقِ إِلاَّ أَنْ تَكُوْنَ صَائِمًا

Dari Luqaith bin Shabrah radliyallahu anhu berkata, aku bertanya, “Wahai Rosulullah kabarkan kepadaku tentang wudlu!”. Beliau menjawab, “Sempurnakan wudlu, sela-selalah jari jemarimu dan bersungguh-sungguhlah di dalam istinsyaq kecuali jika kamu sedang shaum”. [HR an-Nasa’iy: I/ 66, Abu Dawud: 142, Ibnu Majah: 407, Ibnu Khuzaimah: 150, 168, al-Hakim: 537 dan Ahmad: IV/ 33. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahiih]. [75]

عنه قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم: إِذَا تَوَضَّأْتَ فَخَلِّلِ اْلأَصَابِعَ

Dari Luqaith bin Shabrah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, “Apabila engkau wudlu maka sela-selalah jari-jemari”. [HR at-Turmudziy: 38, Ibnu Majah: 448 dan ad-Darimiy: I/ 179. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy Shahih].[76]

عن ابن عباس أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: إِذَا تَوَضَّأْتَ فَخَلِّلْ بَيْنَ أَصَابِعِ يَدَيْكَ وَ رِجْلَيْكَ

Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Apabila engkau wudlu maka sela-selalah jari jemari kedua tangan dan kakimu”. [HR at-Turmudziy: 39, Ibnu Majah: 447 dan Ahmad: I/ 287. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan Shahih]. [77]

Berkata al-Imam asy-Syaukaniy rahimahullah, ”Hadits-hadits ini menunjukkan atas disyariatkannya menyela-nyela jari jemari kedua tangan dan kedua kaki”. [78]

عنه يَقُوْلُ: سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم عَنْ شَيْءٍ مِنْ أَمْرِ الصَّلاَةِ  فَقَالَ لَهُ رَسُوْلُ اللهِ  صلى الله عليه و سلم: خَلِّلْ أَصَابِعَ يَدَيْكَ وَ رِجْلَيْكَ يَعْنىِ إِسْبَاغَ اْلوُضُوْءِ وَ كَانَ فِيْمَا قَالَ لَهُ: إِذَا رَكَعْتَ فَضَعْ كَفَّيْكَ عَلَى رُكْبَتَيْكَ حَتىَّ تَطْمَئِنَّ وَ إِذَا سَجَدْتَ فَأَمْكِنْ جَبْهَتَكَ مِنَ اْلأَرْضِ حَتىَّ تَجِدَ حَجْمَ اْلأَرْضِ

Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma berkata, pernah seorang lelaki bertanya kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tentang sesuatu dari perkara sholat”. Lalu Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepadanya, ”Sela-selalah jari jemari kedua tangan dan kakimu yaitu menyempurnakan wudlu”. Juga termasuk yang disabdakan kepadanya, ”Apabila engkau ruku maka letakkan kedua telapak tanganmu di atas kedua lututmu sehingga engkau tenang dan apabila engkau sujud maka mantapkan dahimu di tanah sehingga engkau dapatkan ratanya tanah”. [HR Ahmad: I/ 287. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].  [79]

 Demikian beberapa dalil yang memerintahkan kaum kaum muslimin untuk menyela jari jemari tangan dan kaki. Tidak hanya membasuh apalagi hanya sekedar mengusapnya tanpa menyela-nyela jari jemari keduanya. Hendaklah setiap mereka itu memperhatikan perintah ini dan tidak meremehkannya. Agar tujuan mereka dengan wudlu dan sholat itu untuk mendapatkan pahala dan surga itu dapat terwujud, tiada sia-sia.

Bersambung

[1]  Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 1, Mukhtashor Shahih Muslim: 1080, Shahiih Sunan Abi Dawud: 1927, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1344, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 73, Shahih Sunan Ibni Majah: 3405, Irwa’ al-Ghalil: 22, Misykah al-Mashobih: 1 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 8.
[2] Bahjah an-Nazhirin: I/ 32.
[3] Iqtidlo’ ash-Shiroth al-Mustaqim, oleh syaikh al-Islam Ibnu Taimiyyah halaman 451-452, Majmu’ Fatawa: I/ 333, Madarij as-Salikin: II/ 93 dan al-Wala’ wa al-Baro’ fi al-Islam halaman 36.
[4]  Fat-h al-Bariy: I/ 135.
[5] Jami’ al-Ulu wa al-Hikam: I/ 32.
[6]  Jami’ al-Ulum wa al-Hikam: I/ 26.
[7] Jami’ al-Ulum wa al-Hikam: I/ 49.
[8]  Taysir al-Allam: I/ 25.
[9] Jami’ al-Ulum wa al-Hikam: I/ 49 dan Tazkiyah an-Nufuus halaman 20..
[10] Zad al-Ma’ad: I/ 196.
[11]Shahih Sunan Abi Dawud: 92, Shahih Sunan Ibni Majah: 320, 319, Irwa’ al-Ghalil: 81, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7514, Misykah al-Mashobih: 404, Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 198, Nail al-Awthar bi takhrij Ahadits Kitab al-Adzkar: 75 dan al-Wabil ash-Shayyib min al-Kalim ath-Thayyib halaman 337.
[12]  Shahih Sunan an-Nasa’iy: 76.
[13]  Zad al-Ma’ad: I/ 195 oleh al-Allamah Ibnu Qooyyim al-Jauziyyah.
[14]  Bahjah an-Nazhirin: II/ 250 dan baca juga kitab al-Wabil ash-Shayyib min al-Kalim ath-Thayyib halaman 343.
[15]  Shahih Sunan at-Turmudziy: 23, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 1, Shahih Sunan Abi Dawud: 103, 105, Shahih Sunan Ibni Majah: 314, Irwa’ al-Ghalil: 164, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 322 dan Misykah al-Mashobih: 391.
[16]  Shahih Sunan Ibni Majah: 315 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 331.
[17]  Shahih Sunan Ibni Majah: 317.
[18]  Shahih Sunan an-Nasa’iy: 81.
[19] Mukhtashor Shahih Muslim: 130, Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 105, Shahih Sunan Abi Dawud: 97, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 82, 83, 112, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6175, 6176 dan Misykah al-Mashobih: 287.
[20] Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 119, Mukhtashor Shahih Muslim: 125 dan Misykah al-Mashobih: 394.
[21]  Fat-h al-Bariy: I/ 266 dan Tuhfah al-Ahwadziy: I/ 106.
[22]  Tuhfah al-Ahwadziy: I/ 106 dan Taysir al-Allam: I/ 29.
[23]  Fat-h al-Bariy: I/ 262, Tuhfah al-Ahwadziy: I/ 107, Taysir al-Allam: I/ 28 dan catatan kaki di dalam Misykah al-Mashobih: I/ 111.
[24]  Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2724, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1756 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 182.
[25] Shahih Sunan An-Nasa’iy: 143, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5804, Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 181 dan Misykah al-Mashobih: 1042.
[26] Mukhtashor Shahih Muslim: 130, Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 105, Shahih Sunan Abi Dawud: 97, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 82, 83, 112, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6175, 6176 dan Misykah al-Mashobih: 287.
[27] Misykah al-Mashobih: 411.
[28] Shahih Sunan an-Nasa’iy: 89.
[29] Shahih Sunan an-Nasa’iy: 84, Shahih Sunan Abi Dawud: 127, Mukhtashor Shahih al-Imam al Bukhoriy: 107 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 443.
[30] Taysir al-Allam: I/ 30.
[31] Shahih Sunan an-Nasa’iy: 85, Shahih Sunan Abi Dawud: 129, Shahih Sunan Ibni Majah: 328, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 927 dan Misykah al-Mashobih: 405.
[32]  Bahjah an-Nazhirin: II/ 380.
[33] Shahih Sunan an-Nasa’iy: 88, Mukhtashor Shahih Muslim: 127, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 330 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 3961.
[34] Shahih Sunan an-Nasa’iy: 86, Shahih Sunan Ibni Majah: 330, Mukhtashor Shahih al Imam al-Bukhoriy: 106, Shahih al-Jami’ ash-Shagir: 6171 dan Misykah al-Mashobih: 341.
[35] Shahih Sunan an-Nasa’iy: 87, Shahih Sunan Ibni Majah: 327, Shahih Sunan at-Turmudziy: 25, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah:1305 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 451.
[36] Shahih Sunan Abi Dawud:128, Shahih Sunan Ibni Majah: 329 dan Shahih al- Jami’ ash-Shaghir: 956.
[37]  Nail al-Awthar: I/ 186.
[38] Shahih Sunan Ibni Majah: 324.
[39] Shahih Sunan Ibni Majah: 325.
[40] Shahih Sunan Ibni Majah: 326, Shahih Sunan at-Turmudziy: 26 dan Misykah al-Mashobih: 412.
[41]Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 119, Mukhtashor Shahih Muslim: 125 dan Misykah al-Mashobih: 394.
[42] Shahih Muslim bi Syarh al-Imam an-Nawawiy: III/ 122.
[43]  Catatan kaki dari Misykah al-Mashobih: I/ 126.
[44] Misykah al-Mashobih: 411.
[45] Mukhtashor Shahih Muslim: 130, Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 105, Shahih Sunan Abi Dawud: 97, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 82, 83, 112, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6175, 6176 dan Misykah al-Mashobih: 287.
[46]  Shahih Sunan an-Nasa’iy: 89.
[47]  Nail al-Awthar: I/ 182.
[48] Aysar at-Tafasir: I/ 597.
[49] Tafsir al-Baghowiy:  II/ 15 dan juga semakna apa yang diterangkan oleh asy-Saikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy di dalam Aysar at-Tafasir:  I/ 598 dan yang dikatakan oleh al-Imam Ibnu Katsir di dalam Tafsir al-Qur’an al-Azhim: II/ 31.
[50] Shahih Sunan an-Nasa’iy: 91 dan Shahih Sunan Abi Dawud: 102.
[51] Mukhtashor Shahih Muslim: 130, Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 105, Shahih Sunan Abi Dawud: 97, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 82, 83, 112, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6175, 6176 dan Misykah al-Mashobih: 287.
[52] Baca kitab “Jilbab al-Mar’ah al-Muslimah fi al-Kitab wa as-Sunnah” oleh asy-Syaikh al-Albaniy cetakan Daar as-Salaam.
[53] Memanjangkan Jenggot diwajibkan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam banyak dalil. Lihat kitab: Wujub i’faa al-Lihyah oleh al-Imam Muhammad Zakaria al-Kandahlawiy.
[54]  Shahih Sunan Ibni Majah: 344, Shahih Sunan at-Tumudziy: 27 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir:4699.
[55] Tuhfah al-Ahwadziy: I/ 115.
[56] Shahih Sunan Ibni Majah: 345 dan Misykah al-Mashobih: 409.
[57]  Shahih Sunan Ibni Majah: 347.
[58]  Shahih Sunan Abi Dawud: 132, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 4696, Irwa’ al-Ghalil: 92 dan Misykah al-Mashobih: 408.
[59]  Nail al-Awthar: I/ 190.
[60] Aun al-Ma’bud: I/ 171 dan Nail al-Awthar: I/ 190.
[61] Aysar at-Tafasir: I/ 598.
[62] Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, يقول di sini bermakna يفعل  (berbuat) dan hal ini banyak terdapat di dalam percakapan Arab. [Shahih Sunan an-Nasa’iy: 122 ].
[63] Shahih Sunan an-Nasa’iy: 93.
[64]Shahih Sunan Abi Dawud: 109 dan Shahih Sunan an-Nasa’iy: 95, 97.
[65]Shahih Sunan an-Nasa’iy: 91 dan Shahih Sunan Abi Dawud: 102.
[66] Mukhtashor Shahih Muslim: 130, Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 105, Shahih Sunan Abi Dawud: 97, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 82, 83, 112, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6175, 6176 dan Misykah al-Mashobih: 287.
[67]Shahih Sunan an-Nasa’iy: 143, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5804, Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 181 dan Misykah al-Mashobih: 1042.
[68]  Mukhtashor Shahih Muslim: 128, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1489 dan Irwa’ al-Ghalil: 94.
[69] Idraj artinya sisipan, maksudnya sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam yang di dalamnya disisipkan perkataan salah seorang rawi, di dalam hadits ini adalah Abu Hurairah radliyallahu anhu .
[70]  Tamam al-Minnah halaman 92.
[71] Fat-h al-Bariy: I/ 236 dan Tamam al-Minnah halaman 92..
[72]  Tamam al-Minnah halaman 92 dan Irwa’ al-Ghalil: I/ 133.
[73]  Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 4698 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 2067.
[74] Padahal memotong kuku itu diwajibkan oleh Nabi Shallallahu alaihi wa sallam sebagaimana di dalam beberapa dalil hadits. Di antaranya adalah, ”Fitrah (atau sunah) itu ada lima yaitu, Khitan, mencukur bulu kemaluan, mencabut bulu ketiak, memotong kuku dan menggunting kumis”. [HR al-Bukhoriy: 5889, 5891, 6297, dan di dalam al-Adab al-Mufrad: 1292,  Muslim: 257, Abu Dawud: 4198,  at-Turmudziy: 2756, an-Nasa’iy: I/ 14, 15, VII/ 128-129, 129, Ibnu Majah: 292, Ahmad: II/ 229, 239, 283, 410, 489 dari Abu Hurairah. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih sebagaimana di dalam Shahih al-Adab al-Mufrad: 975, Shahih Sunan Abi Dawud: 3536, Shahih Sunan at-Turmudziy: 2213, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 9, 10, 11, 4670, 4671, Shahih Sunan Ibni Majah: 237, Irwa’ al-Ghaliil: 73 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3250].
Bahkan Anas bin Malik radliyallahu anhu berkata, ”Kami diberi waktu di dalam menggunting kumis, mencukur bulu kemaluan, mencabut bulu ketiak, dan memotong kuku tidak boleh lebih dari 40 hari”. [Telah mengeluarkan atsar ini Ibnu Majah: 295, an-Nasa’iy: I/ 15-16, Abu Dawud: 4200 dan asy-Syaikh al-Albaniy menshahihkannya di dalam Shahih Sunan Ibni Majah: 240, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 14 dan Shahih Sunan Abi Dawud: 3538].
[75] Shahih Sunan an-Nasa’iy: 85, Shahih Sunan Abi Dawud: 129, Shahih Sunan Ibni Majah: 328, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 927 dan Misykah al-Mashobih: 405.
[76] Shahih Sunan at-Turmudziy: 35 dan Shahih Sunan Ibni Majah: 362.
[77] Shahih Sunan at-Turmudziy: 36, Shahih Sunan Ibni Majah: 361, Silsilah al-Ahadits ash-Shahiiah: 1306 dan Misykah al-Mashobih: 406.
[78]  Nail al-Awthar: I/ 195.
[79] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3239 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1349.